KONSELOR SEBAYA

KONSELOR SEBAYA

Selasa-Kamis, 7-9 April 2026

Selama tiga hari penuh, peserta didik SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School mengikuti kegiatan konselor sebaya yang dirancang sebagai ruang pembelajaran yang hangat, reflektif, dan penuh makna. Kegiatan ini melibatkan peran aktif guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta dormitory parents, dengan pendampingan langsung dari narasumber profesional, Kristika Sadtyaruni, M.Psi., Psikolog.

Program ini tidak sekadar memberikan materi, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang aplikatif. Peserta didik diajak untuk mengasah keterampilan mendengarkan secara aktif—sebuah kemampuan penting yang sering kali terabaikan dalam komunikasi sehari-hari. Mereka belajar bagaimana benar-benar hadir dalam percakapan, memahami emosi yang disampaikan teman sebaya, serta memberikan respons yang tepat tanpa menghakimi atau terburu-buru memberi nasihat.

Melalui kombinasi antara penyampaian materi dan praktik langsung, suasana pelatihan terasa hidup dan relevan dengan realitas yang dihadapi para siswa. Mereka dilatih untuk peka terhadap bahasa verbal maupun nonverbal, menghargai setiap cerita yang disampaikan, serta menjaga rasa aman dan nyaman dalam interaksi. Hal ini menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat di lingkungan sekolah, khususnya di kehidupan berasrama yang menuntut interaksi intens setiap hari.

Kehadiran guru BK dan dormitory parents turut memperkuat proses pendampingan selama kegiatan berlangsung. Mereka tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai teladan dalam menunjukkan sikap empati, kepedulian, dan keterbukaan. Pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan tidak berhenti pada pelatihan semata, melainkan terus hidup dan berkembang dalam keseharian peserta didik di asrama.

Lebih dari itu, kegiatan konselor sebaya ini menjadi langkah strategis dalam membangun budaya saling mendukung di lingkungan sekolah. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi remaja—baik akademik, sosial, maupun emosional—kehadiran teman yang mampu mendengar dan memahami menjadi sangat berarti. Program ini mendorong terciptanya ekosistem di mana setiap peserta didik merasa dihargai, didengar, dan tidak sendirian dalam menghadapi persoalan.

Dengan bekal keterampilan ini, para peserta didik diharapkan tidak hanya mampu menjadi pendengar yang baik, tetapi juga agen perubahan yang menumbuhkan iklim positif di lingkungan mereka. Sebuah langkah sederhana, namun berdampak besar dalam membangun generasi yang lebih empatik, peduli, dan tangguh dalam menghadapi dinamika kehidupan. ?

K E M I T R A A N